Anjuran Pentingnya Berbuat Baik (Ihsan) dalam BermuamalahBentuk ihsan dalam bermuamalah1 Berbuat baik dalam tipu daya2 Berbuat baik dengan pedagang kecil-miskin
Tidak mempermasalahkan ketika ditipu pedagang miskin
Semoga Allah mengasihi orang yang memudahkan membeli dan menjual
(Al-Hadist)
Jika kita membiarkan ditipu pedagang kaya maka itu bukan termasuk ihsan dan tidak terpuji serta termasuk menyia-nyiakan harta
Aku bukan penipu dan orang yang bisa ditipu
(Iyas bin Mu'awiyah)
Tidak akan masuk surga orang yang biasa menipu dan pengkhianat
(Al-Hadist)
Sifat sempurna manusia yaitu tidak mau menipu dan tidak bisa ditipu
(Al-Ghazali)
Jadilah santri yang alim dan aqil
Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain dan para ulama salaf itu kalau membeli barang diselidiki dengan teliti
3 Berbuat baik dengan cara memudahkan urusan harga dan utang
Berbuat baik dalam mekanisme pembayaran dan memberikan pinjaman
-Disunnahkan tidak menagih hutang dan memberikan potongan harga kepada pembeli yang berhutang
-Memberikan tempo pembayaran kepada pembeli yang berhutang
-Gampangan memberikan uang yang bagus buat pembeli
Semoga Allah mengasihi orang yang memudahkan penjualan dan memudahkan pembelian. Semoga Allah mengasihi orang yang memudahkan pembayaran dan memudahkan menerima bayaran
(Al-Hadist)
Bermurah hatilah kamu niscaya orang akan bermurah hati kepadamu. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba ketika dia menolong saudaranya
(Al-Hadist)
Barang siapa yang menangguhkan orang yang sulit membayar hutang atau membebaskan hutangnya, maka niscaya Allah akan merpermudah hisab amalnya
(Al-Hadist)
Baginda Rasulullah Muhammad pernah bercerita dulu ada seorang ahli maksiat. Tidak ada amal kebaikan di buku catatan amalnya. Hingga ditanya malaikat terkait amal apa yang pernah dikerjakan. Dia menjawab tak pernah melakukan amal baik sekalipun.
Namun dia hanya berkata, saat di dunia jadi orang kaya yang suka memberikan hutang pada orang lain
"Aku selalu berpesan pada karyawanku,
'Kalau ada orang kaya minta hutang maka hutangi. Jika ada orang miskin belum bisa bayar jangan ditagih...'
Akhirnya Allah mengampuni ahli maksiat ini karena punya kebiasaan suka menghutangi orang lain dan jika masuk jatuh tempo mempermudah
Jika engkau menjadi tempat keluh kesah orang lain maka bersyukurlah, karena engkau diberi kesempatan Allah beramal yang pasti diterima
(Sayyidina Hasan bin Ali Kw)
"Barangsiapa yang memberikan hutang pada orang lain. Setiap harinya dihitung sedekah sampai jatuh tempo. Jika belum bisa membayar dan masih memberikan hutang maka sedekah masih berlanjut... "
(Al-Hadist)
Atas dasar hadist ini, dulu para salafuna sholih kalau ada orang yang mau melunasi hutang malah ditolak (agar pahala sedekah tidak berlanjut)
Di atas pintu surga terdapat tulisan,
Sedekah itu pahalanya dilipat gandakan sampai 10 tapi memberikan hutang dilipat gandakan sampai 18
Memberikan hutang lebih hebat dari sedekah karena sedekah bisa jadi tidak pas sasaran. Berbeda dengan hutang. Tidak ada orang yang menghinakan dirinya kecuali dia memang orang yang butuh.
Imam Hasan Al Bashri pernah jualan Bighol dengan harga 400 dirham tapi yang beli hutang. Ketika sudah jatuh tempo pembayaran malah dipotong 300.
Setelah dipotong menjadi 300 si pembeli mengakui masih tidak kuat bayar. Lalu dipotong lagi 100 jadi hutangnya tinggal 200 dirham.
"Apa engkau tidak rugi wahai Imam?" pembeli bertanya heran
"Beginilah yang disebut ihsan" jawab Imam Hasan
"Ambillah hutang (menagih) dengan cara yang baik. Maka di hari kiamat akan dihisab yang ringan... "
(Al-Hadist)
Berniatlah jadi orang kaya agar bisa mendapat kemuliaan menghutangi saudara-saudara kita